Thursday, April 22, 2010

Benarkah Perang Bubat Hanya Sekedar Fiksi?

,



haxims.blogspot.com


Perang Bubat

Perang Bubat adalah perang yang diceritakan pernah terjadi pada masa pemerintahan raja Majapahit, Hayam Wuruk dengan mahapatihnya Gajah Mada. Perang ini melibatkan sejumlah besar pasukan kerajaan Majapahit pimpinan Mahapatih Gajah Mada melawan sekelompok kecil pasukan kerajaan Sunda pimpinan Prabu Maharaja Linggabuana, di desa pelabuhan Bubat, Jawa Timur pada abad ke-14 di sekitar tahun 1360 masehi.

Pertempuran yang sangat tidak seimbang tsb dimenangkan secara mutlak oleh pihak Majapahit. Pasukan kerajaan Sunda dibantai habis termasuk komandannya yang juga raja kerajaan Sunda, Prabu Maharaja Linggabuana. Dan tidak cuma itu, permaisuri dan putri raja Sunda bernama Dyah Pitaloka Citraresmi - yang sedianya akan dinikahkan dengan raja Hayam Wuruk - ikut tewas dengan cara bunuh diri setelah meratapi mayat ayahnya.

Diceritakan bahwa timbulnya perang ini akibat kesalahpahaman mahapatih Gajah Mada saat melihat raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit sunda. Gajah Mada menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di pelabuhan Bubat sebagai bentuk penyerahan diri kerajaan Sunda kepada Majapahit. Hal ini menimbulkan perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada, dan memuncak hingga terjadi perang terbuka.

Sumber Sejarah yang Meragukan

Sumber tertua yang bisa dijadikan rujukan mengenai adanya Perang Bubat ternyata hanya sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa Pertengahan berbentuk tembang (syair) dan kemungkinan besar berasal dari Bali, berjudul Kidung Sunda. Pakar sejarah Belanda bernama Prof. Dr. C.C. Berg pada awal tahun 1920an menemukan beberapa versi Kidung Sunda, diantaranya Kidung Sundayana, yang merupakan versi sederhana dari versi aslinya.

Secara analisis, Kidung Sunda harus dianggap sebagai karya sastra, dan bukan sebuah kronik sejarah yang akurat. Meskipun kemungkinan besar berasal dari Bali, tetapi tidak jelas apakah syair tsb. ditulis di Jawa atau di Bali.
Kemudian nama penulis tidak diketahui dan masa penulisannyapun tidak diketahui secara pasti. Di dalam teks disebut-sebut tentang senjata api, ini menunjukkan kemungkinan bahwa Kidung Sunda baru ditulis paling tidak sekitar abad ke-16, saat orang nusantara baru mengenal mesiu, kurang lebih dua abad dari era Hayam Wuruk.

Lebih menarik lagi adalah bahwa dalam Kidung Sunda ternyata tidak disebutkan nama raja Sunda, ratu/permaisuri, dan putri raja. Diduga nama Maharaja Prabu Linggabuana dan nama putri Dyah Pitaloka Citraresmi sengaja diambil karena bertepatan pada tahun-tahun 1360an tersebut dia memang merupakan raja Sunda dan putrinya.

Perlu di perhatikan pula bahwa catatan peristiwa Perang Bubat tidak terdapat di dalam kitab utama peninggalan Majapahit, Negarakretagama, yang notabene ditulis oleh empu Prapanca sekitar tahun 1365 (satu tahun sepeninggal Gajah Mada). Adalah hampir tidak mungkin jika peristiwa besar sekaliber Perang Bubat dan belum lama terjadi tidak tercatat dalam kitab itu. Hanya disebutkan bahwa desa Bubat adalah suatu tempat yang memiliki lapangan yang luas, dan raja Hayam Wuruk pernah mengunjunginya untuk melihat pertunjukan seni dan hiburan.

Rekayasa oleh Penjajah ?

Perlu dikemukakan bahwa sang penulis Kidung Sunda (yang belum diketahui orangnya) lebih berpihak pada orang Sunda dan seperti sudah dikemukakan, seringkali bertentangan dengan sumber-sumber sejarah lainnya.

Sepertinya kita perlu curiga bahwa cerita tentang Perang Bubat dalam Kidung Sunda adalah fiksi belaka dan merupakan rekayasa dari pihak penjajah (Belanda ?) untuk tujuan perpecahan antar suku di pulau Jawa. Bisa jadi syair tersebut diciptakan sendiri oleh ilmuwan Prof. Dr. C.C.Berg atas perintah penguasa kolonial. Hal ini perlu adanya kajian yang lebih mendalam.

Akibat yang fatal yang telah dirasakan oleh bangsa kita atas rekayasa tersebut (kalau memang benar) adalah adanya sikap etnosentrisme orang Sunda terhadap orang Jawa, dan juga pandangan yang sangat negatif orang Sunda terhadap tokoh/figur Gajah Mada (di Jawa Barat hingga saat ini mungkin tidak ditemukan nama jalan; Gajah Mada).

Semoga bangsa kita tetap bersatu dan tidak ada lagi rasa sentimen kesukuan. Karena sikap etnosentrisme tidak lain adalah hasil dari rekayasa politik pemecah belah si penjajah. 
source: http://haxims.blogspot.com/2010/04/perang-bubat-benarkah-hanya-sekedar.html

2 comments to “Benarkah Perang Bubat Hanya Sekedar Fiksi?”

  • June 9, 2010 at 8:44 AM
    Jhony Qemod says:

    gue harap jga gitu Bro, ga da lgi istilah prbedaan suku, smua sma 1 bangsa.
    coz yg sdikit gue tau klw ga slah pndri krajaan Majapahit itu kan Raden Wijaya yg memang asal-usul'a msih dlam prdebatan tpi poling trbanyak Raden Wijaya adlah keturunan Raja Sunda jga yg shrus'a beliau menduduki Raja Sunda ke 27, mohon arahan'a Bro, thanks...!!

  • August 25, 2010 at 2:36 PM
    Anonymous says:

    pembantaian orang sunda di sunda kelapa oleh falatehan alias fatahillah adalah genosida paling berdarah dalam sejarah yang tidak pernah terungkap.seolah tabu atau darah sunda adalah halal hal tsb tidak pernah disebut dalam sejarah indonesia yang memang tidak jujur dan sering memutar balik fakta.
    sejak jaman majapahit orang sunda sudah sering dilecehkan oleh jawa majapahit yang merasa superiur dari orang sunda sampai pada perang bubat jawa membantai sunda bagaikan membantai kambing potong.kebiasaan ini menurun pada demak dan malaka yang dibawah kekuasaan demak.demak membantai sunda di banten dan terjadi genosida bahkan bahasa banten pantai pun jadi bahasa jawa hal yang sama dialami sunda kelapa.orang sunda dibantai habis bahasa sunda tidak ada lagi jadi bahasa melayu yakni bahasanya tentara falatehan yang asal malaka.malaysia.dipinggiran jakarta dijadikan basis jawa dan berbahasa betawi orak.adalah tentara jawa yang dapat tanah rampasan dari orang sunda betawi orak(jawa)ini terdapat dipinggir kota jakatra seperti tanggerang,depok,citeureub,bekasi bahkan sampai jonggol diutara cianjur.mereka adalah merupakan penjaga perbatasan jakatra terhadap bahaya laten sunda.
    perempuan sunda boleh dijadikan gundik tak perlu dinikahi sebagai mana kultur budaya majapahit dan mereka melecehkan dengan nama sundal.atau sundel yang kemudian jadi hinaan sebagai “sundel bolong”perempuan jahat,perempuan tidak benar,perempuan busuk dengan pinggang yang busuk borokan besar bolong,perempuan penghisap darah dst
    bila ada yang jatuh cinta dengan wanita sunda orang betawi sering mengatakan awas dieret sunda,wanita sunda pengeretan.awas diguna guna sunda hati hati makan dirumah sunda,kalau ada orang betawi beristeri orang sunda bangkrut katanya"wajar bangkrut kawin sama sunda"
    kalau jadi gila katanya "kawin sama sundawi masa gak mau gile.ringkas kata betawi melayu yang kawin sama sunda=outcast=salah sendiri=salah pilih=wajar kalau celaka.
    kalau ada orang betawi mukuli isteri atau anak tetua betawi sering menasehati jangan pukul isteri atau anak kalau hati sedang dongkol pukul sunda saja. dst dst
    disamping membantai orangnya bahasa sunda sudah mati di sunda kelapa dibantai oleh melayu dari malaka dibawah pimpinan falatihan dari demak dibantu tentara malaka(melayu/malaysia)sebagian besar sunda pantai utara dibasmi dibantai jawa dan melayu sehingga kini seluruh pantai utara tiada lagi sunda.dan kata pejajaran buat sunda merupakan kerajaan yang agung.tetapi buat orang melayu jakatra (kemudian jadi betawi)dan jawa pantura pejajaran adalah makian hal ini masih terkadang terdengar di betawi yang sudah lenyap sundanya bila orang betawi memaki orang”dasar pejajaran siallaann loe”bila melihat sesuatu yang ganjil misalnya meteor(bintang jatuh dengan api berekor)maka orang betawi mengatakannya itu beraja api teluh pekerjaan setan pejajaran.
    dan masih banyak lainnya.yang ironisnya orang sunda ikut merayakan ulang tahun kota sang pembantai yakni kota jakarta.
    kebiasaan menjagal sunda tidak berahir pada masa pengislaman jawa barat saja tapi terus berlangsung hingga jaman merdeka dimana penguasa banyak jawa sang ratu adil telah tiada
    maka oto iskandar dinata(otista)di comot/diculik dilenyapkan dipenggal kepalanya oleh laskar islam(laskar hitam)di banten yang keturunan jawa!!yang menyuruh laskar hitam atau sang dalang tidak terungkap.
    disamping otista masih ada lagi tokoh sunda yang dilenyapkan yaitu:
    ukar barata kusumah
    niti somantri dan
    puradiredja.mereka korban penghilangan paksa jaman merdeka
    sampai detik ini sunda tidak pernah diakui setulus hati.celakanya banyak orang sunda yang menganggap sultan banten dan falatehan serta begundalnya sijayakarta pahlawan sunda,
    sungguh tragis.nasib sunda!!!!
    bandung lautan api,bandung dibakar oleh tni.yang mundur.DIBAKAR OLEH YANG NGAKU BANGSA DEWEK!!!NASIB BANDUNG!!!NASIB SUNDA!!selalu jadi kambing korban

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalin komentar di wahw33d. Kamu bisa Bertanya dan memberikan tanggapan artikel diatas. Tapi jangan nyepam yah.. hehe

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

wahw33d Copyright © 2009 - 2012 | Template Modified by GooGrape | Powered by Blogger